Followers
Blog List
Woensdag 10 April 2013
Perihal Wanita Yang Harganya Terjangkau
“ Mau es krim teh? “,
ada ta es krim rasa teh, pikirku saat itu ( mbanyol hee )
Yang ditawari pura-pura tidak mendengar tetapi bahasa tubuhnya seolah-olah ingin ditawari lagi. Dipegangnya satu persatu es krim yang di depan ku, hemmm
“ ni mbak-mbak mau beli atau cuma mau ngadem ya? hihihihi”,
“ Saya belikan yang besar deh buat teteh..”,
Oh teteh maksudnya, bukan teh. Bilang dong mang.
*teteh itu mah bahasa sunda yang artinya kakak perempuan ( bahasa jepangnya “mbak” )
Anak laki-laki itu masih saja mengikuti tiap gerak dari mbak-mbak disamping ku. Yang ditawari pun mulai bereaksi.
“ Iya boleh, yang itu..”,
katanya sambil menunjuk es krim yang ku taksir kira-kira harganya 32 ribu. Tidak ketinggalan, senyum yang menggoda.
“ mau apa lagi? “
“ coklat juga boleh ..”,
Katanya memanja sambil memasukkan 10 bungkus coklat ke keranjangnya. Dan disaat itulah tiba-tiba mata ku panas dan darah ku mendidih, si mas-mas tadi sudah mulai menyentuh tangan mbaknya, saat suaraku sampai di kerongkongan tiba-tiba aku kehilangan suara ku, aku tercekat dengan kejadian selanjutnya, si mbak menggamit tangan si mas tadi, kemudian berlalu. Duh gusti Allah, ya allah. Ludah ku serasa susah ditelan.
“ non, ditunggu nyonya linda di mobil “,
Ah pak min gengges !! aaahhhhh….
Sesampainya di mobil aku memilih untuk tenggelam dalam pikiran ku sendiri. Duh gusti, mengapa harus seorang wanita. Gusti Allah. Mengapa harus kaumku. Mengapa mereka yang menjadi bahan bakar api nerakaMu. Gusti Allah aku berlindung padamu dari bisikan setan yang terkutuk.
“ mana es krim uda yi? “,
“ habis !! “ jawabku sekenanya.
ES KRIM LAGI.
“ wah uny sinta sudah ada yang meminang yi, pengusaha kaya, katanya dia yang paling besar harga tebusannya di kampungnya, kita diundang pernikahnnya seminggu lagi..”
Saat itu pula dadaku semakin sesak. Aku menatap uda, nanar.
“ 15 milyart katanya yi.. Wah buka butik nanti itu mah teh Euwis euy,”
“ iya nanti uny sinta bisa jadi manikennya, kan uny sinta cantik da, tambah laris itu entar butiknya. Tambah kaya entar paman Yusuf “,
Nadaku bergetar, aku menahan emosi, duh gusti allah. Aku menoleh kepada uda sambil tertawa menyeringai. Tawa akan luka. Tawa menahan marah. Tertawa yang menertawakan, duh harus ku katakana, KU MEMBENCINYA.
Sudah sampai,
Segera ku bantu uda mengangkat barang-barang dari mobil kemudian aku segera masuk kamar. Ku buka semua file-file tentang nasib wanita bangsaku. Perdagangan wanita. Tempat prostitusi yang ditunggangi elit politik. TKW yang dianiyaya majikannya. Duh gusti. Ya Allah. Ya Rahman. Ya rahimm.
Ini kisah tentang wanita yang terdistorsi terhadap penilaian manusia dalam setiap wujud relasinya. Ini tentang wanita yang bisa diperlakukan sekenanya. Ini tentang ibu-ibu ibu pertiwi. Ini tentang gadis-gadis yang tak gadis. Ini tentang potongan coklat dan es krim untuk seusap tangan yang tak halal. Terpekur, aku masih disini. Ini perihal wanita yang harganya terjangkau. DISKON BESAR-BESARAN !!
Aku tak rela.
Jangan kau sebut seperti itu, wanita-wanita di kaum ku adalah wanita-wanita yang menjadi madrasah pertama dalam keluarganya. Wanita yang menjaga nama baik ayah dan ibunya. Yang menjaga kehormatan suaminya. Yang menjadi singa di hutan yang rimba. Menjadi kelinci yang lucu untuk tuannya.
Teken in op:
Plaas opmerkings (Atom)



0 opmerkings:
Plaas 'n opmerking