Vrydag 03 Mei 2013

Pak Nuh bersama Mey

Geplaas deur Unknown om 01:12


Aksi Tuntutan Menteri Nuh Mundur Meluas
(http://id.berita.yahoo.com/aksi-tuntutan-menteri-nuh-mundur-meluas-084427759.html)


Mengamuk, membakar, menghancurkan, meluluhlantakkan sepertinya sudah menjadi hal yang biasa terjadi di negeri ini. Membulliying, justifikasi, mengecam, lama-lama menjadi hoby bangsa ini. Tak heran jika moralitas menjadi penyebab tingginya mo(r)talitas. Menilik dari sejarah negeri ini memang mulanya terbentuk dari status quo yang tergesa kemudian mengkambing hitamkan perubahan sebagai dalih pembenaran untuk sebuah pembantaian massal bernama Revolusi. Revolusi yang selau meminta tumbal. Dan kita tidak pernah intropeksi, karena begitulah manusia. Mereka akan menjadi pengacara terhebat untuk dirinya sendiri dan mereka akan menjadi hakim agung untuk kesalahan orang lain.
Ya, mey beberapa tahun silam..
1 mei hari buruh internasional (ramai-ramailah kita akhirnya berunjuk rasa meminta pemerintah memperbaiki nasib kita)
2 mei hari pendidikan nasional (ramai-ramailah kita meminta pemerintah turun dari jabatannya)
3 mei hari kebebasan pers, kebebasan yang kebablasan

Ah ternyata..
Kita hanya mengganti siapa dengan siapa tetapi bukan apa dengan apa. Matahari perubahan tak menyajikan habis gelap terbitlah terang, tetapi kita menuju pada emansipasi yang kian pekat.

1 Mei
Pemerintah akan menjadikan hari libur nasional tahun depan karena pada tanggal itu para buruh banyak yang berunjuk rasa, jalanan macet, dan yang jelas perusahaan tutup sementara.
Horeee....
Berarti kita telah menabung kerugian milyaran rupiah akibat sebagian besar perusahaan akan tutup karena pegawainya unjuk rasa
Horeee...
Berarti kita akan membudayakan gugat menggugat pada episode peradaban bangsa milenium di bumi pertiwi ini
Selamat merayakan hari "pembenaran kemalasan kita untuk bekerja" *(sebenarnya)
Selamat tinggal, karen aku memilih jalan lain saja
Tuhanku, Allah SWT, memilihku menjadi berlian yang tak ternilai, tidak ada duanya. Dia percaya sepenuhnya padaku, sehingga aku tak punya alasan untuk ragu. Bahkan aku ditulis dalam kitab suci bahwa
"....Dia tak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya"
begitu kurang lebih isinya. Dia begitu memuliakanku, kenapa aku harus menghinakan diriku. Dia begitu mempercayaiku, percaya kepada kemampuanku sepenuhnya, tidak ada keraguan. Maka akan kurayakan mei day sebagai hari intropeksi sejauh mana inovasiku selama ini. Sejauhmana kegigihanku, kerajinanku selama bekerja selama ini. Aku tahu mereka yang menjadi bos kini tidak serta merta bimsalabim kaabra-abra langsung jadi pimpinan, aku tak mau jika aku menjadi buruh akupun bermental buruh. Cenderung merasa direndahkan.

seperti yang pernah diceritakan oleh kakak yang bekerja di pertamina
"Maaf agak terlambat tadi karena aku tadi hampir bertengkar dengan seorang pekerja karena aku tegur dia tidak memakai sepatu, memakai helm berkawat padahal kan itu membahayakan mereka"
terus pegawainya itu bilang apa emang kak..?
"sampeyan ga tahu rasanya jadi kuli mas, gaji sedikit, kerja banyak..and bla bla bla.."
terus kakak jawab apa?
"ya saya juga dulu menjadi kuli pernah pak, dan saya juga merasakan sengsaranya kuliah.."

"lalu sebenarnya siapa yang merendahkan siapa, siapa yang tidak menghargai siapa?"
pertanyaan retorika yang tak perlu dijawab ^^

Lesakkan Semangat mu, dan bangunlah, bekerjalah dengan giat dan kembangkan inovasi-inovasimu. Tidak perlu kau buang tenagamu untuk marah, tak perlu kau sibukkan dirimu untuk gugat menggugat, percayalah sebagai apapun kamu kamu adalah berlian, kamu adalah bintang. Sebagai apapun kamu.
Karena kita bangsa timur, bangsa yang bermartabat.

2 Mei
Kawan..
Mereka yang duduk dipemerintahan sekarang, mungkin dulunya adalah kaum muda yang idealis sama seperti kalian, dan aku memilih untuk yakin bahwa beliau juga masih sama seperti dulu namun kini beban yang ditanggungnya serta kebijakan yang harus diputuskannya ternyata tak semudah memasak mie. Tidakkah kita mulai dari diri kita sendiri. Jika ada sesuatu yang salah sehingga kita "terluka" mengapa kita sibuk menyalahkan "bapak" kita bahkan ibu kita. Mari kita perlakukan "orang tua" kita dengan sangat baik.
Mari kita katakan serentak..
"Pak, kami pemuda Indonesia, jika ada yang berusaha menunggangi kebijakan bapak maka kami ada paling depan untuk membela bapak. Ceritakan kepada kami kesulitan bapak, maka kami akan siap di medan tempur yang pertama. Jika ada adik-adik kami di pedesaan, pedalaman, yang belum terjamah pendidikan maka kami siap menjadi utusan bahkan tanpa bayaran sekalipun. Jika bapak perlu kami mengibarkan bendera merah putih pada olimpiade-olimpiade internasional akan kami pertaruhkan jam-jam tidur kami, tak akan kami sibuk-sibuk menjelahi mall mall, akan kami korbankan tiap keringat kami ini pak. Tak akan kami budidayakan sifat korupsi pada diri kami bapak, tak akan kami pertaruhkan pada secarik tanda tangan atas keabsenan kami dalam perkuliahan, tak akan kami lakukan itu bapak. Kami memilih mempercayaimu bapak dengan terus berbuat yang terbaik untuk ibu kita, pertiwi.."

3 Mei..
mari kita selesaikan ini baik-baik dengan diri kita masing-masing. Tinggalkan urusan yang tidak penting. Media adalah instrumen kebaikan, bukan ajang menggibah, memaki, dan bukan ajang membully. Mari kita ciptakan kebebasan berpendapat yang sehat, pers sebagai jembatan jangan menjadi timpang. Karena ini menjadi cermin kepribadian bangsa. Sebuah bangsa bisa dilihat dari bacaannya.
yuk menjadi pribadi yang lebih baik, ^^


Bangsa yang SANTUN dan BERSAHABAT
^^

0 opmerkings:

Plaas 'n opmerking

 

schönes Leben Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea