Sondag 31 Maart 2013

Tentang Badai Hari Ini

Geplaas deur Unknown om 22:33
Seekor anak kucing bersama seorang wanita, bercakap-cakap lewat isyarat, di depan pintu, saat badai tiba-tiba menghantam. Si wanita memakai seragam yang sama, dengan saat sebuah pertemuan yang dijanjikan, berlari ke tempat yang sama saat ini, tempat yang sebenarnya tak ingin didatangi, tetapi badai petang ini, tiba-tiba, sehingga tempat itu yang tersisa. Mata kucing besitatap dengan mata si wanita. Matanya basah, hatinya ribut. Dahsyat. Badai itu beserta angin kencang dan serbuan hujan yang menghujam. Sembab, hatinya bergetar, bibirnya menggigil, anak kucing tertunduk. Sebuah pertemuan yang disepakati dan kemudian diakhiri.
Luka yang basah lagi.
Badai telah menjebaknya pada sebuah perjalanan yang telah berlalu. Pada sebuah waktu pertama yang tidak ingin diingatnya. Dan waktu yang dicukupkan sekali itu, pada dekade itu. Pada perjalanan yang diinginkan yang kemudian menjadi sejarah.
Kini ingin dimuntahkannya.
Tentang dia.
Dia, yang tidak pernah dimengerti. Dia, racun yang membunuh perlahan.

_______________________________________000_________________________________

Sebelah dirimu menginginkan agar dia datang, memberimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati kepadamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi semua tulisannya--dari mulai kertas secarik sampai do’a berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap, dan abu dari benda-benda yang dia hanguskan—bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila—beterbangan masuk ke matanya. Semoga dia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.
Namun, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kali kesekian, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan cinta. Kemudian, mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan dan ketabahan hati. Betapa sebelah dirimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubadzir, segalanya pasti bermuara di satu samudera tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala.. dan itulah tujuan kalian.

____________________________________000______________________________________

Kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka.. tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.
Satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela untuk embantu itu.
Akan tetapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.
Kamu takut
Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kau mulai ragu.
Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tetapi kamu cemas. Kata “sejarah” mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.
Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tetapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tetapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.
Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang dikepalamu sebagai sang Kekasih Impian, sang Tujuan, sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang tidak Boleh Sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.
Lama, baru kamu menyadari bahwa pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.
Lama bagi kamu berani menoleh kebelakang, menghitung berapa banyakkkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?
Sebuah hubungan yang diibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utanng moral, inestasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.
Cinta butuh dipelihara. Bahawa di dalam sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.
Cinta jangan selalu diitempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu----entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan disetiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan.. karena cinta adalah mengalami.
Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud.
Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.
Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini. Hingga akhirnya...

__________________________________000________________________________________

Di meja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip sehingga cuma kamulah yang tersiksa?)
Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.
Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat suatu sosok, tidak akan pernah tahu bagaimana menjaga sesuatu tanpa sebuah pengakuan.
Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melengu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.
Sampai pada gerimis yang hampir usai, kamu yakin dia tidak akan paham atau setidaknya setengah memahami betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.
Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidk ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.
Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata “jangan” yang mungkin, apabla diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.
Kamu pun tersandar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

__________________________________000_______________________________________

Ketika gerimis itu tiba di tetesnya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yag sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu.

*bukan apa dan siapa, hanya menyalin dari beberapa catatanku saja, sambil menghabiskan beberapa remeh donat terakhir



0 opmerkings:

Plaas 'n opmerking

 

schönes Leben Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea